SAMARINDA, UNB.- Sebanyak 145 pegiat Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dari 17 provinsi dan 30 kabupaten berkumpul di Samarinda untuk menegaskan satu hal: membangun budaya baca bukan sekadar menyediakan buku, melainkan memastikan pengetahuan dapat dijangkau masyarakat.
Pertemuan itu berlangsung dalam Temu Pegiat TBM Nasional ke-2 yang digelar Forum Taman Bacaan Masyarakat pada 6–8 November 2026 di Gedung Rizani Asnawi, UPTD Taman Budaya Samarinda, Kalimantan Timur. Mengusung tema “Dari Beranda IKN, Merajut Kolaborasi, Menguatkan Literasi”, peserta datang dari berbagai daerah, mulai Sumatera Barat hingga Nabire, Papua Tengah.
Ketua Panitia yang juga Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Forum TBM, Heni Wardatur Rahmah, menyebutkan jangkauan peserta tersebut mencerminkan luasnya gerakan TBM yang melintasi wilayah geografis dan kondisi sosial yang beragam.
“Di balik angka itu ada kerja komunitas yang tidak selalu terlihat: mengelola ruang baca, menyediakan bahan bacaan, mendampingi anak-anak, serta membangun kebiasaan belajar di lingkungan masing-masing,” ujarnya.
Literasi dan Persoalan Akses
Hari pertama temu nasional memperlihatkan bahwa gerakan literasi tidak bisa diseragamkan. Setiap daerah memiliki persoalan akses, kebiasaan, dan sumber daya yang berbeda. Pendekatan yang berhasil di satu tempat belum tentu dapat diterapkan begitu saja di tempat lain.
Gambaran itu mengemuka dalam sesi Ngapeh Inspirasi bertajuk “Buku yang Menggerakkan TBM”, yang menghadirkan empat perempuan pegiat literasi dari latar belakang berbeda.
Siti Badariah dari Desa Tanjung Saleh, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, memilih membawa buku mendatangi anak-anak ketika mereka sulit menjangkau tempat membaca. Melalui Perahu Baca, ia menyusuri sungai untuk memastikan anak-anak di wilayahnya tetap memiliki akses terhadap bacaan.
Inisiatif itu lahir dari kehidupan masyarakat setempat yang sangat dekat dengan sungai. Bagi Siti, menyediakan buku di satu tempat tidak selalu cukup. Akses harus dijawab dengan pendekatan yang sesuai dengan kehidupan warga.
Kampung Baca Tansal yang dikelolanya pun berkembang menjadi ruang belajar masyarakat, termasuk melalui pelatihan komputer dan kegiatan kreatif. Kiprahnya memperoleh pengakuan melalui SATU Indonesia Awards bidang pendidikan tingkat Kalimantan Barat pada 2021.
“Kami tinggal di wilayah yang kehidupan masyarakatnya sangat dekat dengan sungai. Karena itu, kami berpikir buku juga harus bisa mengikuti kehidupan mereka. Kalau anak-anak sulit datang ke tempat membaca, maka bukulah yang harus mendatangi mereka. Dari situlah Perahu Baca menjadi penting,” kata Siti.
Pengalaman berbeda datang dari Rita Orbaningrum di Muntok, Bangka Barat. Sebagai guru Bahasa Indonesia, ia mendirikan TBM Pondok Baca Ceria pada 2016. Gerakan itu kemudian diperluas melalui Yayasan Bumi Literasi Mandiri yang didirikan pada 2022. Rita juga aktif dalam kepenulisan dan memimpin Forum TBM Bangka Belitung sejak 2025.
Bagi Rita, literasi tidak boleh berhenti sebagai kewajiban akademik di sekolah. Anak-anak perlu menemukan hubungan antara membaca dan kehidupan sehari-hari.
“Saya percaya literasi tidak boleh berhenti di ruang kelas. Anak-anak perlu menemukan bahwa membaca bukan sekadar kewajiban sekolah, tetapi pintu untuk mengenali dunia dan memahami kehidupan. TBM menjadi ruang yang memungkinkan proses belajar itu berlangsung lebih dekat, lebih bebas, dan lebih menyenangkan,” ujarnya.
Sementara itu, Rika Yudani, Program Manager Room to Read Indonesia sekaligus penggagas Tangerang Read Aloud, mengangkat pentingnya keluarga dalam membangun kebiasaan membaca. Menurutnya, budaya membaca dapat dimulai sebelum anak mengenal huruf.
“Budaya membaca sesungguhnya bisa dimulai dari rumah, bahkan sebelum anak mengenal huruf. Ketika orang tua membacakan cerita, sesungguhnya mereka sedang membangun kedekatan emosional sekaligus menanamkan kecintaan terhadap buku. Membaca harus menjadi pengalaman yang menyenangkan, bukan beban,” tuturnya.
Narasumber lainnya, Nurul Asmayani dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan, menyoroti pentingnya kualitas bacaan anak. Penulis buku anak dan remaja sejak 2011 itu menghasilkan karya dengan beragam tema, mulai tokoh sejarah hingga cerita islami. Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan literasi dan memimpin Forum TBM Kalimantan Selatan.
“Anak-anak di daerah membutuhkan buku yang dekat dengan kehidupan mereka, tetapi sekaligus membuka jendela menuju dunia yang lebih luas. Jangan menganggap anak-anak di daerah cukup diberi buku seadanya. Mereka juga berhak mendapatkan bacaan bermutu, menarik, dan memperkaya imajinasi,” kata Nurul.
Keempat pengalaman tersebut menunjukkan bahwa akses literasi bukan hanya persoalan ketersediaan buku. Ada persoalan jarak, lingkungan keluarga, kualitas bahan bacaan, dan kemampuan komunitas membangun ruang belajar yang sesuai kebutuhan masyarakat.
TBM Bukan Sekadar Tempat Membaca
Persoalan literasi juga berkaitan dengan kebudayaan. Hal itu dibahas dalam sesi “TBM sebagai Ruang Hidup Kebudayaan: Merawat Tradisi, Merayakan Kreativitas, Membangun Masa Depan” yang menghadirkan sastrawan Syafrudin Pernyata dan Ketua Pengurus Wilayah Forum TBM Kalimantan Timur Rahmad Azazi Rhomantoro. Diskusi dipandu Arif Afandi.
TBM dapat menjadi ruang perjumpaan antara pengetahuan, tradisi, dan kreativitas. Di dalamnya, masyarakat tidak hanya membaca karya orang lain, tetapi juga memiliki kesempatan mengenali warisan budaya, mengembangkan gagasan, dan menghasilkan karya.
Syafrudin menyoroti kekayaan cerita, sastra, dan tradisi lisan yang dimiliki masyarakat Indonesia. Tantangannya adalah bagaimana warisan tersebut tidak berhenti sebagai kenangan generasi terdahulu.
“Kita memiliki kekayaan cerita, sastra, dan tradisi lisan yang luar biasa. Tantangannya adalah bagaimana semua itu tidak berhenti sebagai kenangan generasi tua. TBM dapat menjadi jembatan agar warisan kebudayaan itu dibaca kembali, ditafsirkan, dan dihidupkan oleh generasi muda,” ujarnya.
Rahmad menambahkan bahwa menjaga kebudayaan bukan berarti hanya mempertahankan bentuk-bentuk lama. Tradisi perlu terus diberi ruang untuk berkembang melalui kreativitas dan ekspresi baru masyarakat.
Sebagai tuan rumah, ia berharap pertemuan nasional tersebut dapat memperkuat jejaring antarkomunitas sekaligus memperkenalkan potensi gerakan literasi di Kalimantan Timur.
“Menjadi tuan rumah Temu Nasional Pegiat TBM bukan semata-mata kehormatan bagi Kalimantan Timur, tetapi juga kesempatan untuk memperlihatkan bahwa gerakan literasi tumbuh dari komunitas-komunitas lokal. Kami ingin para pegiat yang datang membawa pulang bukan hanya kenangan tentang Kalimantan Timur, tetapi juga inspirasi dan jejaring kolaborasi,” kata Rahmad.
Dengan demikian, taman bacaan tidak harus dibatasi sebagai tempat penyimpanan koleksi buku. Ia dapat menjadi ruang kebudayaan yang hidup, tempat tradisi dirawat sekaligus diperbarui melalui kreativitas generasi berikutnya.
Perpustakaan yang Pernah Dipinggirkan
Persoalan lain yang mendapat perhatian adalah posisi perpustakaan dalam pembangunan. Dalam Ngapeh Literasi bertema “Menguatkan Ekosistem Gerakan Literasi Akar Rumput”, Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Prof. E. Aminudin Aziz mengangkat pengalaman tentang bagaimana perpustakaan pada masa lalu kerap dipinggirkan dalam lingkungan birokrasi.
Forum yang berlangsung pukul 19.00–21.30 WITA itu juga menghadirkan Sekretaris Jenderal PP Forum TBM Heni Wardatur Rahmah dan Ketua Umum Forum TBM Dr. Opik, M.Pd. Diskusi dipandu Andi Diah Masita, Ketua PW Forum TBM Sulawesi Tenggara.
Aminudin mengisahkan bahwa pengelola perpustakaan terkadang diisi pegawai yang tidak memperoleh tempat di unit lain, dianggap bermasalah, atau sedang menunggu masa pensiun. Dari sisi fasilitas, perpustakaan tidak jarang ditempatkan berdekatan dengan toilet atau gudang. Koleksi buku pun disediakan sekadarnya.
Kondisi tersebut menggambarkan bagaimana perpustakaan pernah diperlakukan sebagai unit pelengkap, bukan bagian penting dari pembangunan pengetahuan masyarakat. Tidak mengherankan apabila ruang perpustakaan kemudian kehilangan daya tarik dan tidak menjadi tempat yang mendorong masyarakat untuk datang.
Aminudin mendorong perubahan mendasar, bahkan radikal, dalam cara pandang terhadap perpustakaan. Literasi harus menjadi backbone atau tulang



