Banten  

Terkuak Fakta, Oknum Kades Pagelaran bersama Suaminya Paksa Ingin Succses Fee Bukan Tim Pembebasan Lahan

Lebak, UNB.- Salah satu tim pembebasan lahan untuk lokasi pembangunan tambak udang di Desa Pegelaran, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Banten yang ditunjuk langsung oleh perusahaan bernisial H. FM menyebut, bahwa Kepala Desa Pagelaran dan Suaminya yang berstatus PNS tersebut bukanlah tim pembebasan lahan. Kata ia, Kepala Desa hanya sebatas bagian dari pemerintahan desa.

H. FM juga mengaku bingung dengan perlakuan Kepala Desa yang sempat beberapa kali mendatangi rumahnya untuk menagih pembayaran pembebasan lahan tersebut sambil marah-marah. lebih ironisnya, ada bahasa cacian terhadapnya ketika pembayaran tersebut masih dalam tahapan proses karena ada keterlambatan.

Bahkan, lebih mirisnya lagi, kata ia, Kepala Desa bersama suaminya, diduga menjadi provokasi aksi demo warga ke lokasi pembangunan hanya untuk agar ada kelanjutan pembayaran succses fee tersebut.

“Ya sempat kerumah saya dua kali, pertama siang hari, pas kedua kalinya pas magrib sambil marah marah agak sedikit membentak juga sampai melontarkan kata kata kasar dan tidak pantas, bahkan warga yang mau berjamaah Shalat Magrib pun sempat keluar melihat karena suara berisik,” ungkap H. FM pada Minggu (4/6/2023).

Lanjut H. FM, awal mula terkait masalah pembesan lahan tersebut bermula dirinya dipercaya oleh pihak perusahaan untuk mencari lahan dan atau membebaskan lahan untuk pembangunan perusahaan tambak udang tersebut.

“Kahaji kan dipercaya untuk membaskan lahan, kebetulan lokasinya di Desa Pagelaran dan kahaji dikasih Surat Kuasanya untuk pembelajaan atau pembebasan lahan dari perusahaan langsung. Pertama kan saya sendiri, terus saya mengandeng dengan pak Iwan. Karena pak Iwan selain warga Pagelaran, lahan tersebut yang kena pembebasan juga banyak yang dimiliki oleh keluarga pak Iwan, nah, akhirnya kahaji dikasih surat kuasa atau istilahnya surat kontrak harga segala macem dari pihak perusahaan, akhirnya kahaji berjalan hanya berdua dengan pak Iwan,” ungkap H. FM.

Kemudian, lanjut H. FM, setelah berjalan kurang lebih hampir satu tahun dan bahkan lahan tersebut sudah siap digarap oleh perushaan, disitulah mulai ada kendala-kendala dari pihak Kepala Desa dan suaminya.

“Kan sudah siap mau digarap dari pihak pembangunannya, dan menang sudah beres dan klir dari pembebasannya sudah berjalan, nah, mulailah disitu ada kendala kendalanya ada yang ngotot dari Kepala Desanya termasuk suaminya, padahal kan suaminya tidak berperan atau ikut tim pembebasan tapi suaminya selalu terdepan,” kata H. FM.

Ketika ditanya mengapa Kepala Desa bersama suaminya bisa mengaku menjadi tim pembebasan lahan tersebut, justru kata ia, dirinya mengaku heran, kenapa setelah ramainya kejadian ini mereka Kepala Desa dan Suaminya mengaku menjadi tim pembebasan lahan.

“Nah, justru saya juga heran, setelah kejadian ini kok mengaku masuk tim, sedangkan kalau memang mereka mau masuk tim kenapa tidak dari dulu saja dari awal, semenjak pembebasan kurang lebih satu tahunan lah ya, ya kenapa gak dari dulu, malah pas kejadian ini mereka baru ngomong jadi tim,” kata H. FM.

Lanjut H. FM mengungkapkan bahwa sebetulnya Kepala Desa tersebut awal mula meminta Succses fee sebesar Rp 5000 ribu rupiah permeter, karena merasa keberatan akhirnya menjadi Rp 1500 rupiah untuk per-satu meternya.

“Kepala Desa nagih ke saya sisa pembayarannya, kan pertama mereka minta 5000 permeter, dan akhirnya jadinya 1500 permeternya, cuman kan mereka sebetulnya bukan tim pembesan, atas dasarnya dari pihak Desa saja bukan tim, gak ada tim kecuali saya dengan pak iwan. Akhirnya dil tuh 1500 itupun karena mereka maksa,” ungkap H. FM.

“Kan mereka meminta uang pertama, pas waktu itu uang turun dari pengurusan itu kan ada kelebihah kelebihan saya, karena waktu itu kebetulan kan ada pencalonan Kepala desa, nah dia butuh uang, makanya waktu itu saya kasih 100 Juta, setelah itu minta lagi di kirim lagi 20 juta tunai, ada 20 juta ada yang 30 juta,” ungkap H. FM.

“Kemudian, jarak berapa bulan kalau gak salah, mereka minta lagi di transfer, terakhir sisa sisanya mereka itu 130 juta. Nah, kemudian setelah dikroscek ternyata kan dihitung hitung sisanya itu tinggal 110 juta. Datanglah ke rumah saya sambil meminta pernyataan segala tanda tangan buktinya. Akhirnya, saat itu uang saya masih di luar semua, udah gitu Ibu Kepala Desa itu gak mau sabar sampai marah marah dan bahkan orang yang mau shalat pun keluar dari Mushola karena kebetulan rumah saya dekat dengan mushola,” tandasnya. (red)

error: Content is protected !!